CASSIOPIEA ALWAYS KEEP THE FAITH

CASSIOPIEA ALWAYS KEEP THE FAITH
THIS OUR GOD, CASSIOPEIA ^^

Sabtu, 23 Juli 2011

Cerpen: THE EYE


THE EYE

Summary: Sydney Wills seorang gadis buta yang selalu bisa melihat dengan caranya sendiri, bahkan melihat dengan cara terbaik yang ada di dunia ini. Menunggu setiap hari kapan warna hitam dalam hidupnya segera tergantikan.

Bagi siapapun, melihat berarti mengetahui. Melihat berarti mengetahui kebenaran. Tapi tidak denganku. Tidak semua kebenaran dapat di ungkapkan dengan melihat, aku melihat dengan caraku sendiri. Yeah, aku melihat dengan hidungku, tanganku, kakiku dan.. hatiku.
Usiaku 24 tahun, dan aku tidak bisa melihat sejak umur 12 tahun. Mataku buta karena petasan yang dinyalakan kakakku pada hari Natal 12 tahun yang lalu. Tapi aku tetap bisa melihat, aku tahu saat hujan akan datang. Yeah aroma uap air bisa aku rasakan. Melihat tanpa mata, mungkin itulah kelebihanku. Sedikit keadilan yang Tuhan berikan pada mahluknya yang tak berdaya.
Dan di sinilah aku, gadis biasa yang sedang berjalan dengan satu tongkat. Benda yang membantuku untuk melihat. Sedang menunggu lampu lalu lintas berganti hijau. Dengan indera pendengarku yang tajam, aku bisa tahu kapan lampu lalu lintas itu akan berganti warna. Bunyi denting itu selalu bisa aku dengar biarpun hiruk pikuk jalanan berusaha menyembunyikannya.
“AWAS!”
Aku berteriak saat seseorang hampir saja tertabrak bus yang melintas.
“Ah iya, terima kasih. Kau sudah menolongku.”
Aku mendengar suara bariton laki laki yang sudah ku tolong itu.
“Maaf, aku memang tidak melihat ada bus itu.” Dia menyambungnya lagi.
“Yeah, aku juga tidak melihat bus itu.”
Dan pergi meninggalkan pria yang tadi ku selamatkan. Menyisakan keterkejutan yang luar biasa padanya. Setidaknya aku ingin meninggalkan kesan bahwa orang buta sepertiku juga bisa melihat. Bahkan jauh lebih baik dari mereka yang bisa melihat.
Kemana langkahku? Aku selalu tahu, saat ini satu satunya tempat yang ingin kutuju adalah sebuah gedung klasik bergaya eropa di sudut kota tua. Bangunan apik yang menyimpan banyak sejarah. Yeah, itu adalah bangunan tempat di gelarnya beberapa konser musik untuk memperingati hari-hari istimewa kota.
Aku kesana bukan sebagai penonton. Tahun ini aku bisa unjuk bakat, bakat yang ku asah selama belasan tahun. Karena kecintaanku pada musik. Bagiku musik bukan hanya tentang indah, musik adalah bagian dari hidupku. Sesuatu yang sangat berarti dan mengalir dalam setiap pembuluh darahku ini. Desirnya pun bisa ku rasakan setiap kali mendengar alunan simphoni.
Yeah inilah aku, Sydney Wills. Lulusan Universitas Seni di Columbia. Anak kedua dari dua bersaudara keluarga Wills. Berdiri dengan anggun di atas panggung.. ku rasa. Memegang erat biola kesayanganku ini. Bukan sekedar biola, dia adalah teman yang akan membantuku menjadi seorang professional.
Aku tidak tahu, berapa banyak penonton yang datang untuk melihatku. Aku juga tidak tahu anggapan apa yang akan mereka katakan setelah pagelaran ini. Aku tidak tahu apa apa, tapi itulah yang membuatku merasa lebih baik. Terkadang mengetahui segala hal itu tidak akan membuatmu merasa lebih baik. Semua orang bisa melakukan sesuatu dengan baik, tapi yang tidak sama adalah perasaan mereka yang ingin melakukan sesuatu dengan baik justru hal itulah yang menjadi hal terbaik.
Lagu ini, sonata bethoven “Secret World” yang ku bawakan. Aku melakukannya dengan baik dan semoga akan menjadi yang terbaik. Berada di atas panggung ini sangatlah menyenangkan. Kebahagian yang selalu aku dapatkan, kebahagian yang akan membawaku menjadi seperti orang lain. Orang-orang dengan kesempurnaan fisik.
Yeah, kebahagian yang aku rasakan saat ini juga adalah yang terbaik. Yang ku tahu, kebahagian di dunia ini ada dua hal. Kebahagian yang pertama adalah kebahagian yang kau sadari ketika telah berlalu. Kedua adalah kebahagian yang kau rasakan saat itu juga. kebahagiaan yang terjadi pada saat dilakukan adalah sangat langka.
Mereka berkata kau bisa melihat sinar kemilau hanya dengan mengingatnya. Ku rasa aku akan terus mengingat saat ini. Hari ini, kebahagian ini akan aku ingat sepanjang sisa hidup ini. Saat-saat di mana aku.. bersinar.
Tepuk tangan yang sangat meriah itu benar benar membutku lega. Ku pikir, aku pasti sudah melakukan sesuatu yang terbaik. Seusai pagelaran ini, aku berpamitan dengan para seniorku yang sangat puas dengan pertunjukan kali ini.
“Kau bermain dengan sangat mengagumkan, Sydney.”
Suara itu, yeah aku mengenalinya dengan sangat baik. Stephani Delweis. Dia wanita yang hidup dalam dunianya yang sempurna. Aku tahu, bulan lalu seniorku ini baru saja menikah dengan pria baik tentunya. Aku menyukainya, dia wanita baik dan tegar. Senior yang lebih tua 2 tahun dariku ini tidak pernah memandangku sebelah mata. Dia sudah seperti kakakku.
“Aku melakukan hal terbaik yang bisa ku lakukan.”
Jawabku sambil tersenyum bahagia, tentu saja kacamata hitam selalu menutupi iris mataku yang berwarna biru pucat. Dan aku bisa merasakan, di sana dia juga tersenyum mendengar kata kataku.
“Kau tahu Sydney, mulai libur musim panas ini aku akan pergi berbulan madu dengan suamiku. Kau tak keberatan aku pergi selama beberapa hari?”
Terdengar jelas dari setiap tarikan nafas dan penekanan suku katanya, dia mengkhawatirkanku.
“Apa aku harus pulang ke Florida untuk menenangkanmu, sist?”
Dia terkekeh geli, dan menggenggam tanganku lembut.
“Yeah, kau harus melakukannya jika tak ingin membuatku gila karena memikirkanmu.”
Kami tertawa bersama, kurasa ini lelucon terbaik. Ikatan di antara kami yang sudah seperti saudara. Selama beberapa tahun ini, aku tinggal satu apartemen dengannya. Dan wanita ini selalu membantu kesulitanku. Dia adalah teman dan guru terbaik.
Esok harinya, aku terbangun di dalam gelungan selimut yang hangat dan lembut ini. Alarm berbunyi tujuh kali dan itu artinya, jam sudah menunjukan pukul 7 am. Hendak beranjak ke arah lemari kayu ek. Dan ku aktifkan mesin penerima pesannya.
“Sydney cepat bangun, kau akan terlambat kalau tak bangun sekarang.”
Aku hanya tersenyum simpul mendengar suara Stephani di mesin penerima pesan itu, tak kusangka dia benar benar menelepon saat hari harinya untuk bulan madu. Dan satu lagi pesan masuk.
“Hei, sudah 5 menit sejak telepon pertamaku. Kau belum juga bangun. Kau akan terlambat di hari pentingmu ini, kau dengar?”
Terdengar penekanan pada setiap katanya, Stephani pasti sudah tidak sabar. Ku biarkan saja pesan itu dan melanjutkankan aktifitasku menuangkan kopi hitam di cangkir. Satu pesan lagi masuk, ku pikir itu dari Stephani lagi tapi ternyata bukan.
“Nona Wills, pemeriksaan akan kita lakukan pada jam 10 am. Datanglah ke rumah sakit seperti biasa dan bawakan hasil check-up bulan lalu. Kau akan dapatkan hadiah terbaik di musim panas tahun ini.
Itu adalah suara bariton dari dokterku, Williem Hansel. Ahli mata yang sudah menanganiku sejak 5 tahun yang lalu. Tapi aku tak peduli, toh masih ada waktu tiga jam lagi sampai perjanjian itu. Aku tak mau kegemaranku menghirup aroma kopi di pagi hari ini terinterupsi. Tapi perkataan dokter itu sedikit membuat pagiku kali ini terusik.
Yeah aku memutuskan untuk segera ke rumah sakit. Kabar baik apa yang di maksudnya? Entahlah. Beberapa hal ternyata cukup membuatku menunda keberangkatan ke rumah sakit di daerah elit. Beverly Hills.
Hari ini benar benar cerah, aku bisa merasakannya. Sinar matahari yang hangat itu seakan membungkus kulitku dengan baik, terasa sangat nyaman. Memang, aku sudah lama hidup dalam kegelapan. Sahabat terbaikku adalah hitam, tapi bukan berarti aku sama sekali tak bisa melihat cahaya. Bagi orang sepertiku, cahaya sekecil apapun pasti bisa terlihat.
“Permisi.”
Aroma ruangan yang sudah sangat ku hafal ini mulai menyeruak memenuhi hidungku, aroma lembut mint khas laki laki dewasa. Yeah aku tak membenci aroma ini, aku bahkan sangat menyukainya.
“Masuklah, silakan duduk nona.”
Bunyi berdecit itu pasti kursi yang di dudukinya. Ku pikir dia sangat menyukai kursi itu karena tidak menggantinya walaupun sudah cukup berkarat.. mungkin.
“Aku punya kabar baik untukmu. Setelah menunggu selama beberapa tahun, ada orang baik hati yang bersedia mendonorkan matanya.”
Seakan ada ribuan volt yang di aliri ke dalam tubuhku, aku benar benar terkejut tapi juga merasa bahagia. Akhirnya setelah menunggu dalam kegelapan selama 12 tahun aku akan segera sembuh dan kembali melihat dunia yang sudah sangat lama kutinggalkan.
“Jadi a.. aku—“
“Kau akan bisa melihat dalam waktu dekat ini.”
Aku tidak tahu harus apa, aku hanya merasa benar benar bahagia.. itu saja. Ku harap ada Stephani di sampingku dan memberiku selamat serta mentraktirku makan malam, tapi ya sudahlah, aku tak ingin merusak acara bulan madunya. Toh aku bisa memberitahunya nanti kalau dia sudah kembali.
Selama beberapa hari aku harus menginap di rumah sakit agar keadaanku stabil. Orangtuaku sudah ku telepon kemarin dan mereka bilang akan segera ke Colombia. Sepertinya Tuhan sudah mendengar doaku setiap malam, sepertinya Tuhan sudah mengerti seberapa besar penderitaanku.
Hari pertama. Hari kedua. Hari ketiga. Dan hari ini, adalah hari dimana operasi itu akan dilakukan. Belum pernah aku merasa segugup ini. Tapi aku tak membenci perasaan ini, jantungku yang berdebar, perasaan takut ini. Aku belum pernah merasakannya tapi aku menyukainya.
Aku tak pernah menyalahkan siapapun tentang kebutaanku ini. Tapi satu yang ku takutkan. Aku takut, suatu hari nanti aku tidak lagi bisa mengingat seperti apa wajah orang tuaku, kakakku, dan keluargaku. Aku takut aku akan melupakan seperti apa matahari, bulan dan lainnya. Aku harus bersabar untuk melihat, aku sudah menunggu 12 tahun dan aku pasti bisa menunggu 3 hari. Yeah itu waktu yang singkat bagiku.
“Sekarang aku akan melepas perban di matamu.”
Perlahan lahan sedikit demi sedikit perban di mataku mulai lepas, aku mulai bisa melihat cahaya yang menembus sampai ke dalam mataku. Dokter muda itu memberiku instruksi untuk membuka mata sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai mengerjap ngerjapkannya dan entahlah aku merasa pipiku memanas. Aku tak pernah menyangka wajah dokter Hansel setampan ini.
“Kau bisa melihat dengan jelas?”
Tak ada satupun kata kata yang keluar dari bibirku, yang ada hanya anggukan kepala. Dan sepertinya dokter Hansel tahu apa maksudku.
“Baiklah, sepertinya kau mendapatkan mata yang indah. Warna biru sebiru langit, mungkin itulah mata yang cocok untukmu. Blue sapphire. Tapi kau harus tetap datang check-up. Aku yang akan merawatmu sampai benar benar sembuh.”
Yang akan kukatakan sekarang adalah.. kehidupan orang tidak akan berakhir ketika mereka mati. Itu berakhir ketika mereka kehilangan keyakinannya. Seseorang bahkan berjuang hidup dan rela mati untuk sebuah ikatan. Yeah, ikatan berharga yang di sebut.. cinta.
Kenapa manusia mau mempertaruhkan nyawa untuk melindungi orang lain? Manusia mati sendirian lalu menghilang. Juga masa lalu serta kehidupan saat ini lalu bersama dengan masa depan. Banyak orang meninggal dalam peperangan atau saat menjalankan tugas, dan datangnya waktu kematian itupun sangat tiba-tiba sampai terasa mengejutkan. Diantara orang matipun ada cita-cita yang mereka kejar tapi bagi siapapun juga ada sesuatu yang berharga, yang nilainya sama dengan itu. Orang tua, saudara, teman serta kekasih. Orang-orang yang benar-benar berharga bagi diri sendiri, ikatan dengan orang-orang yang berharga yang saling percaya dan menolong yang sudah ada sejak lahir. Kemudian benang ikatan itu mengikuti jalannya waktu menjadi tebal dan kuat, tak bisa di jelaskan dengan teori. Orang yang memiliki benang tersebut mengerti hal itu karena begitu berharga.

THE END

2 komentar:

  1. bikin lagi cerpen atau FF yg interaktif ya dan bermakna positif, gomawo :)

    BalasHapus
  2. oke gomawo juga, makasih udah mau baca hehe :)

    BalasHapus