Ini adalah sebuah blog yang di buat hanya untuk kepentingan author, jika ada yang secara sengaja atau tidak berkunjung maka tolong tinggalkan jejak. salam ramah dan hangat dari Cassiopeia ^^
Sabtu, 23 Juli 2011
FF/ TVXQ HoMin/ Abochi, Saranghaeyo part 2
Tittle: Abochi.. Saranghaeyo
Author: The Blacklist
Chapter: 2 - end
Rated: K
Genre: Family, melankolis
Main cast:
Hong Jung Im
Choi Won Hong
Shim Changmin aka Choi Kang Changmin
Park Yoochun
Summary: Choi Won Hong anak laki-laki berusia 11 tahun yang tidak pernah tahu siapa sebenarnya sosok dari sang ayah. Walaupun sedih tapi dia berusaha keras untuk selalu melakukan yang terbaik demi seseorang yang sangat berharga untuknya, "Asal bersama ibu aku tidak akan menderita." itulah kata-kata motivasi yang selalu membuat ibunya terharu.
Apakah akhirnya dia bisa bertemu dengan ayahnya? Lalu siapa sebenarnya sosok ayah yang di rindukannya?
Ga usah banyak omong langsung lanjut aja! OK
”Oppa!” Mendengar panggilan Jung Im pada pria yang datang tiba-tiba ini tentu saja menarik perhatian Yoochun.
“Do! Jangan sentuh dia lagi, kau pikir kau ini siapa?” Perkataan kasar Changmin pada Yoochun membuat Jung Im kesal dan langsung membalasnya.
“Kamu pikir kamu siapa?!” teriaknya.
“M.. mwo? aku ini—“ belum sempat Changmin melanjutkan kata-katanya, Jung Im sudah memotongnya.
“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Semuanya sudah berakhir!” Jawaban Jung Im ini membuat Changmin terluka, dan menjatuhkan kado yang susah payah di siapkannya. Won Hong datang dan menghampiri ibunya.
“Huh~ ya kau benar, aku bodoh karena mengikuti kalian.”
Setelah mengatakan itu Changmin pergi begitu saja, Jung Im langsung terduduk lemas di kursi taman. Yoochun tentu saja merasa bingung dan memutuskan untuk membelikan Jung Im minum. Won Hong mengambil bungkusan yang di jatuhkan pria tadi dan menyembunyikannya dalam tasnya.
Sesampainya di rumah, Jung Im langsung menuju kamarnya dan tidak bersuara lagi. Won Hong dan Yoochun tentu sangat mencemaskan keadaan Jung Im. Siapa sebenarnya pria itu? Kenapa Jung Im memanggilnya oppa. Tapi Won Hong kemudian meminta Yoochun untuk pulang saja dan menanyakan hal ini lain kali saja.
Setelah mereka tinggal berdua, Won Hong membuka pintu kamar ibunya dan melihat ibunya yang sepertinya sangat shock dengan kedatangan pria itu. Won Hong memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa dan masuk kamarnya. Saat ia hendak tidur dia teringat dengan bungkusan yang di temukannya. Langsung saja dia membukanya dan ternyata, isinya adalah seperangkat pakaian berkebun lengkap dengan topi dan kemeja berbordir Choi Won Hong.
Ini membuat Won Hong semakin penasaran siapa sebenarnya pria itu, kenapa dia bisa tahu namanya dan mengenal ibunya. Di sana ada kartu nama yang hanya bertuliskan: Saengil Chukka Hamnida, Choi Won Hong. Dari seorang yang sangat merindukanmu.
Walaupun dia merasa bingung dan tidak tahu apa-apa tapi dia tetap menyukai hadiahnya dan memelukanya erat sampai tertidur. Won Hong memutuskan untuk menyembunyikan ini dari ibunya, karena jika ibunya tahu dia pasti akan sangat marah dan memintanya mengembalikan hadiah ini.
Di apartemennya lagi-lagi Changmin minum banyak karena frustasi tingkat tinggi dan tidur dalam keadaan mabuk. Dia mulai mengigau.
“Mianhae, jeongmla mianhae.”
Keesokan harinya suasana di rumah Jung Im dan Won Hong sedikit kaku. Won Hong sama sekali tidak berani bertanya mengenai kejadian kemarin, menyelesaikan sarapannya dan langsung berangkat sekolah.
Di kantor Jung Im juga tidak bersemangat dan ini sangat menganggu Yoochun, karena itulah sebelum pulang Yoochun bersikeras untuk bicara.
“Masalah kemarin aku tidak akan tanya, terserah padamu akan menceritakannya atau tidak tapi ada satu hal yang ingin ku katakan.” Jung Im merasa sedikit tertarik dengan arah pembicaraan ini.
“Entah sejak kapan aku merasakannya, tapi sekarang aku benar-benar menyukaimu.”
Pengakuan Yoochun terang saja membuat mata Jung Im yang tadinya terlihat malas langsung membulat tidak percaya sampai membuat mulutnya terbuka lebar membentuk huruf “O”.
“Karena itu, ayo pacaran.”
Yoochun akhirnya mengatakannya juga setelah selama beberapa hari memikirkannya. Wajahnya mulai berubah menjadi pink, karena grogi Yoochun menggaruk-garuk pipinya khawatir Jung Im akan melihat perubahan warna di pipinya.
Jung Im kemudian menggenggam tangan yang tadi di gunakan Yoochun menggaruk-garuk pipinya. Wajahnya terlihat serius sekarang dan itu semakin membuat Yoochun merasa gugup.
“Manager serius mengatakannya?” Yoochun tidak mampu berkata apa-apa, tiba-tiba saja tenggorokannya tercekat dan akhirnya hanya mengangguk pelan.
“Kalau begitu ayo pacaran.”
Jawaban Jung Im membuat Yoochun merasa lega dan bahagia, langsung saja Yoochun mendekatkan diri ke arah Jung Im berniat menciumnya tapi Jung Im menolak merasa belum siap. Yoochun merasa sedikit kecewa tapi berusaha menerima, mungkin ini terlalu mendadak katanya mencoba menenangkan diri sendiri.
Hanya dalam sebulan hubungan mereka menjadi sangat dekat, sering melihat mobil Yoochun yang terparkir di depan rumah Jung Im dengan mudah Changmin bisa menebak sendiri. Hubungan mereka pasti sudah lebih dekat dari sebelumnya. Hingga Yoochun membawa kabar yang mengejutkan.
“Amerika?!” Jung Im tidak percaya dengan kata-kata yang baru di ucapkan Yoochun kepadanya.
“Ne, kita akan memulai hubungan yang lebih serius di sana.”
“Lalau bagaimana dengan Won Hong?”
“Tentu saja kita akan membawanya, aku juga akan mencarikan sekolah baru untuknya. Kau tidak perlu khawatir.”
“Keundae.. waeyo?”
“Aku di pindah tugaskan oleh atasanku untuk mengurus perusahaan cabang satu lagi yang ada di Amerika.”
Jung Im tidak bisa memberikan jawaban apa-apa, dia masih belum bisa memutuskannnya sekarang. Yoochun mengerti dan memakluminya, tapi Yoochun meminta Jung Im untuk memberikan keputusannya secepat mungkin.
Pertama-tama tentu saja Jung Im harus meminta persetujuan Won Hong, awalnya Won Hong juga merasa ragu. Karena Korea adalah tempat tinggal terbaiknya, tapi dia merasa tidak tega jika karena keinginannya hubungan Yoochun ahjusshi dengan ummanya harus berakhir. Dengan berat hati akhirnya Won Hong setuju juga.
Kabar kepindahan Jung Im dan Won Hong akhirnya sampai juga ke telinga Changmin. Sebagai ayahnya tentu saja dia berhak ikut campur tentang masalah ini tapi dia urungkan niatnya. Tidak mungkin kan tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai seorang ayah dan suami padahal selama ini dia tidak pernah bersikap sebagai seorang ayah dan suami yang baik.
Yunho benar-benar mengkhawatirkan keadaan Changmin. Sejak dia mendengar kabar itu, setiap malam Yunho harus mengantar Changmin pulang ke apartemennya dalam keadaan mabuk berat. Di tambah lagi dia terus-menerus mengigau.
Yunho memutuskan untuk menuju rumah Jung Im dan mengatakan semuanya, tentu saja tanpa sepengetahuan Changmin. Mobil Ferrari merahnya melaju kencang di jalanan kota. Tidak sampai satu jam dia sudah sampai ke rumah Jung Im.
“Maaf kau ini—“
“Aku teman aa bukan aku hyungnya Changmin. Aku datang kemari karena ingin mengatakan sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Aku tidak akan basa-basi lagi, walau kau sudah memutuskan untuk pergi ke Amerika setidaknya kau harus tahu beberapa hal. Selama 10 tahun ini tidak pernah sedetik pun dia melupakan kalian. Hampir setiap malam dia selalu memarkir mobilnya di sini seperti orang bodoh. Lalu merayakan ulang tahunmu dan anakmu, dia bahkan membelikan kado untuk kalian setiap tahunnya tapi tak satupun dari hadiah itu yang di serahkannya. Semuanya bertambah parah setelah mendengar kalau kau akan pindah ke Amerika setiap malam dia pasti pulang dalam keadaan mabuk.”
“Kau bohong! Dia bukan orang seperti itu!”
“Lalu kau pikir aku sengaja datang ke sini hanya untuk mengarang cerita? Aku mengatakan semua ini karena tidak tahan melihatnya seperti itu. Terserah kau saja mau percaya atau tidak, tapi urusanku di sini sudah selesai. Permisi.”
Seusai menemui Jung Im, Yunho memutuskan untuk menemui Yoochun dan bicara padanya, dia cukup mengenal managernya ini. Dan mengajaknya bertemu di café. Yoochun tentu saja tidak berpikir macam-macam.
Yunho memberanikan diri untuk mengatakan semuanya dan meminta maaf karena sudah ikut campur masalah pribadi tapi dia merasa harus melakukan ini demi sahabatnya. Dia mengatakan hal yang sama persis dengan yang ia katakan pada Jung Im. Yoochun sangat terkejut mendengarnya, terlihat ada kilatan di mata onyx nya.
“Aku tidak peduli dengan masa lalu Jung Im, kalau ia tidak menceritakan apapun itu berarti dia sudah memutuskan untuk melupakannya. Aku tetap akan pergi ke Amerika lusa.”
Yunho akhirnya menyerah, dia sudah melakukan semua yang ia bisa. Dan untuk selanjutnya, hanya Changmin sendirilah yang bisa menyelesaikannya.
Kedatangan Yunho yang kurang dari 30 menit membawa efek luar biasa bagi Jung Im, dia tidak bisa percaya Changmin yang egois dan selalu dingin seperti es itu tidak mungkin memperhatikan keluarga yang sudah di tinggalkannya seperti itu.
“Semua itu bohongkan, oppa?” Tanpa sadar air matanya keluar, Jung Im menghabiskan waktu semalaman di kamarnya untuk menangis.
Keesokan harinya, semua barang-barang yang akan di bawanya ke Amerika sudah siap. Mereka hanya tinggal berangkat keesokan harinya. Tapi masih ada yang mengaganggu pikiran Jung Im. Pikirannya buyar setelah Won Hong memanggilnya.
“Umma ada tamu yang mencarimu.”
“Tamu? Nuguya?”
“Entahlah, dia pria yang tinggi dan tidak kalah tampan dari Yoochun ahjusshi.”
Bagai di sambar petir, Jung Im langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke teras. Begitu pintunya terbuka, pria yang datang ternyata adalah Changmin. Dia sedang berdiri bersandar di selusur dinding tembok. Melihat sosok Jung Im sedikitpun dia tidak tampak tegang, dia bahkan menyunggingkan senyum yang terlihat sedih. Dari dalam Won Hong juga menyusul keluar.
“Apa kabar? Apa kau baik-baik saja?” tapi Jung Im tidak mampu berkata apa-apa.
“Umma, dia itu siapa?” Changmin langsung mendekati Won Hong dan berjongkok agar tingginya sejajar.
“Apa kau yang bernama Choi Won Hong? Kau sudah besar dan tampan.” Changmin mendekati Won Hong dan meletakkan tangannya di pundak Won Hong.
“Jangan dekati anakku! Won Hong-ah kau masuklah.” Jung Im langsung menghempaskan tangan Changmin.
“Ta.. tapi umma.”
“Masuk!” Won Hong tahu ibunya sedang marah, jadi dia tidak punya pilihan untuk mematuhi perintahnya. Setelah memastikan Won Hong sudah masuk, Jung Im langsung memberondong Changmin dengan banyak pertanyaan.
“Mau apa kau kesini?”
“Aku ingin melihatmu dan anakku, untuk yang terakhir kalinya.” Jawabnya, terlihat jelas dari tatapan matanya Changmin benar-benar merasa sedih.
“Kau sudah melihatnya, jadi pulanglah sekarang. Kau datang kesini pun takkan mengubah apa-apa.”
“Arrasseo. Aku ingin memberikan ini untukmu dan juga untuknya.” Changmin mengeluarkan banyak kado yang selama ini di belinya sebagai kado ulang tahun.
“Tidak perlu, kau bawa pulang saja.”
“Jebal, aku hanya ingin memberikan sesuatu yang sejak dulu ku simpan. Berikan padanya dan katakan saja ini hadiah perpisahan.”
Karena tidak tega dan merasa apa yang di katakan Changmin tulus, maka Jung Im menerimanya juga.
“Apa boleh aku memeluknya sebentar saja?”
“Tidak, pulanglah sekarang.”
Tanpa mengatakan apapun lagi, dengan berat hati Changmin akhirnya pergi juga. Sekali lagi, untuk terakhir kalinya dia hanya ingin melihat dua orang yang sangat di sayanginya. Di lain pihak, walaupun Jung Im sudah berusaha untuk melupakan Changmin. Selama ini dia tetap hidup dengan bayang-bayangnya, tapi dia berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu karena sekarang sudah ada Yoochun di sisinya.
Yunho sebagai orang terdekat berusaha menghibur Changmin dan melarangnya minum lagi, apalagi besok mereka harus menghadiri acara penghargaan. Mereka tidak boleh datang dalam keadaan berantakan seperti ini.
“Aku sudah tidak peduli lagi dengan semua itu hyung, aku bodoh karena merasa bisa hidup tanpa mereka. Aku seorang pecundang yang kalah dan tidak berani mengangkat kepala lagi.”
Kata-kata Changmin terdengar sangat memilukan, Yunho hanya bisa menghela nafas dan ikut prihatin dengan takdir kejam yang menimpa adiknya ini.
Menjelang malam keesokan harinya, Yoochun datang dan menjemput Jung Im juga Won Hong. Won Hong terlihat antusias dan bersemangat tapi tidak dengan Jung Im. Dia terlihat lesu dan murung, tapi Yoochun meyakinkannya lagi.
“Aku pasti akan membahagiakan kalian, percayalah padaku.” Bisiknya tepat di telinga Jung Im. Kata-kata dari Yoochun berhasil menguatkan hati Jung Im.
Sepanjang perjalanan menuju gedung pertemuan, Yunho sangat mengkhawatirkan Changmin. Karena sedari tadi pandangannya terlihat kosong. Di tambah dengan lingkaran hitam di sekitar matanya semakin memperburuk keadaannya, bisa di pastikan semalaman dia pasti tidak tidur.
Gedung sudah penuh sesak dengan aktris dan aktor juga penyanyi top Korea. Mereka semua berkumpul untuk mengetahui siapa yang akan mendapatkan penghargaan sebagai Most Wanted kali ini atau sebagai selebriti yang paling di cari dan bersinar tahun ini.
Setelah dua jam mengikuti acara ini, Pembawa acara itu akhirnya menyebut nama DBSK, Yunho sangat gembira mendengarnya tapi tidak dengan Changmin. Tak terlihat ekspresi senang atau sedih di wajahnya membuatnya terlihat semakin miris.
Semua orang dan fans yang memenuhi gedung langsung berteriak histeris dan ikut berbahagia. Acara ini di tayangkan di semua stasiun tv *ngarang* dan tv kabel nasional. Penghargaan tertinggi untuk para selebriti Korea. Sayangnya walaupun acara ini di siarkan di bandara, Jung Im tidak melihatnya. Karena ia lebih fokus menunggu pesawat daripada melihat acara seperti itu.
Yunho dan Changmin atau yang sering di sebut HoMin maju ke podium dan mengatakan beberapa patah kata. Changmin tidak berniat untuk mengatakan sesuatu tapi Yunho memintanya untuk mengatakan sesuatu, kata-kata yang tak pernah tersampaikan untuk anak dan istri yang sudah lama di tinggalkannya.
“Choneun.. berdiri di sini, aku benar-benar merasa bersalah.” Semua penonton langsung berkasak-kusuk apa maksud perkataan Changmin.
“Demi berdiri di podium ini, aku sudah melukai dua orang yang benar-benar berharga. Ku pikir aku tetap bisa hidup tanpa mereka, tapi ternyata aku salah. Aku sangat menyesal, kini aku kehilangan mereka.. karena salahku.” Katanya sambil menunduk, akhirnya air mata yang selama ini di tahannya keluar juga.
“ Jika ada cara agar aku bisa di maafkan maka akan ku lakukan, tapi sepertinya aku sudah melukai perasaan mereka terlalu dalam. Aku ini orang yang menyebalkan—“
Di bandara Yoochun memberitahu Jung Im kalau pesawat akan datang dalam 30 menit. Mereka harus bersiap menuju lobi.
“Mungkin mereka tidak akan mendengar kata-kataku ini, mungkin selamanya kata-kata ini tidak akan tersampaikan. Tapi aku cuma ingin mengatakan satu hal.. gomawo, terima kasih sudah hidup dengan baik. Terima kasih sudah membesarkannya untukku.” Suasana dalam gedung makin gaduh begitu mendengar kata-kata Changmin, siapa sebenarnya orang yang di maksdunya.
“Ayah merindukan mu Won Hong-ah.. dan aku juga merindukanmu Jung Im-ah. Ini adalah kata-kata tulus dari seorang ayah kepada anaknya, maaf untuk semuanya.”
Changmin juga menunduk dan meminta maaf kepada para fansnya karena sudah mengecewakan mereka dan menyembunyikan kenyataan sebenarnya.
Seisi gedung sekarang meledak, mendengar Changmin menyebut dirinya sebagai seorang ayah. Lee So Men, direktur dari SMent langsung naik pitam dan naik podium. Dia marah dan menyuruh Changmin turun panggung. Di ruang terpisah tanpa babibu lagi Lee So Men langsung menampar Changmin.
PLAAK
Yunho sudah tidak tahan, setelah memaksa Changmin untuk menyembunyikan masa lalunya sekarang dia berniat menyiksanya. Yunho ganti memukul Lee So Men dan mengancam kalau ia tidak akan tinggal diam. Tidak terima dengan perlakuan Yunho, Lee So Men menjadi sangat marah dan meminta bodyguardnya untuk menghajar HoMin.
Tapi belum sempat mereka menghajar HoMin, para fans DBSK memaksa masuk dan berdiri melingkar melindungi HoMin.
“Berani kalian menyentuh walau hanya ujung rambut mereka, maka kami akan membunuh kalian.” Kata salah satu fansnya.
Para bodyguard yang hanya berjumlah lima tentu saja kalah jumlah dengan para fans itu. Walaupun mereka kebanyakan wanita tetap saja 5 orang mana mungkin bisa mengalahkan ratusan orang. Lagipula ini bukan Negara tanpa hukum, salah-salah mereka bakal di tahan karena melakukan tindak kekerasan.
“Oppa pergilah dan katakan kata-kata yang selama ini tidak tersampaikan pada mereka. Oppa tenang saja, kami akan melindungi kalian.” Kata-kata dari seorang fans yang tulus mampu menggerakkan hatinya, akhirnya Changmin pergi setelah mengucapkan terima kasih.
“Ayo berangkat, pesawat sebentar lagi take off.” Jung Im tidak menjawab dan hanya menurut saja, sekali lagi dia menoleh ke belakang dan mencari keberadaan seseorang.
“Selamat tinggal oppa, jaga dirimu baik-baik.” Katanya dalam hati.
Tidak lama setelah Jung Im dan Won Hong masuk pesawat, Changmin datang dalam keadaan kehabisan nafas dan terus berkeliling mencarinya. Dia memutuskan untuk bertanya pada receptionist kapan pesawat ke Amerika take off. Receptionist mengatakan pesawat akan tinggal landas kurang dari 10 menit lagi.
Yoochun, Jung Im dan Won Hong sudah duduk di dalam pesawat. Tapi tiba-tiba saja Jung Im ingat kalau tasnya ketinggalan di lobi bandara. Dan meminta waktu lima untuk mengambilnya. Yoochun setuju dan membiarkannya pergi.
Changmin terjatuh lemas, dia tahu semuanya sudah terlambat. Dalam keputusasaannya itu, sosok yang sangat di carinya muncul di tepat hadapannya. Changmin langsung berdiri dan menghampirinya.
“Jung Im-ah.” Suara yang sangat familiar itu mengagetkannya.
“Op.. pa?”
“Syukurlah, aku bisa bertemu denganmu.”
“Oppa, ada apa denganmu kenapa penampilanmu seperti ini?” Changmin hanya nyengir.
“Pipimu.. waeyo?” Tanpa sadar Jung Im menyentuh pipi Changmin karena sangat khawatir.
“Gwaenchana, sakit di pipi ini sama sekali tidak terasa begitu jemari indahmu menyentuhnya.” Jung Im jadi salah tingkah dan langsung menjauhkan tangannya dari pipi Changmin.
“Mian, aku harus pergi.”
Tapi Changmin langsung menghentikan Jung Im. Tangan Changmin dengan erat mencengkram lengan Jung Im.
“Lepaskan! Sakit.”
“Dengarkan aku, sebentar saja.”
Jung Im akhirnya luluh juga dan memberi Changmin waktu untuk mengatakan sesuatu. Di dalam pesawat Yoochun merasa cemas karena sudah lebih dari 5 menit berlalu dan Jung Im belum juga kembali. Karena itu dia meminta pramugari agar sedikit menunda penerbangannya, dia akan mencari Jung Im.
“Maafkan aku, jebal. Setidaknya sebelum kau pergi kau harus memaafkan aku, agar aku tidak selamanya hidup dalam perasaan bersalah. Aku sudah mengambil keputusan yang salah, hanya kalianlah yang bisa membuatku bahagia.”
Jung Im tidak menjawab apa-apa, dia hanya melihat wajah Changmin ekspresi.
“Kalau kau tidak pergi mungkin kita bisa hidup dengan bahagia, walau kekurangan uang kita pasti bisa melaluinya. Iya kan?” Bantah Jung Im dingin.
“Karena itu, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Bukankah semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua?”
“Aku tidak tahu, maaf sudah ada yang menungguku. Aku harus segera pergi.”
Changmin langsung menarik Jung Im ke dalam pelukannya dan menangis. Di saat yang bersamaan Yoochun dan Won Hong datang, Yoochun langsung melihat mereka dalam keadaan yang sangat tidak menyenangkan.
“Aku mohon, satu kesempatan lagi.. untukku.”
Tapi Jung Im masih tetap bungkam dan tidak membalas pelukan Changmin. Jung Im mencoba melepaskan diri dari pelukan Changmin dengan paksa tapi tidak ada artinya Changmin lebih kuat darinya.
“Lepaskan! Ada apa denganmu! Berhenti bersikap kekanakan seperti ini!” Teriaknya, sekarang mereka sudah menjadi perhatian beberapa pasang mata di bandara.
“Geudae, aku memang kekanakan dan egois. Karena itulah aku butuh dirimu yang dewasa. Kalau kau bersedia memaafkan aku maka, impianmu akan ku wujudkan ani.. kita akan mewujudkannya bersama-sama.”
“Aku sudah melupakannya.” Jung Im berusaha mengabaikan Changmin tapi Changmin tetap teguh dan terus mencoba untuk meyakinkannya.
“Kita akan membangun peternakan dan hidup tenang di sana. Aku akan melepaskan semuanya, asal kita bisa hidup seperti dulu lagi.”
“Kenapa kau ini selalu memutuskan semuanya seenaknya sendiri? Dulu saat kau bilang ingin debut aku rela melepaskanmu tapi kenapa sekarang kau bilang mau mengakhiri semuanya dan hidup seperti dulu?!”
Jung Im sudah lepas kendali dan menangis sambil berteriak-teriak. Changmin tahu istrinya ini sudah luluh, lalu Changmin memberanikan diri untuk memeluk Jung Im. Kali ini Jung Im tidak menolak lagi dan terus menangis di pelukannya.
“Mianhae, jeongmal mianhae.” Kata Changmin menenangkan Jung Im.
Melihat Changmin dan Jung Im, Yoochun sepertinya tahu bahwa dia harus pergi ke Amerika sendiri. Sebenarnya dia sudah tahu, selamanya hati Jung Im tidak pernah seutuhnya di berikan padanya. Tapi dia mencoba menyangkalnya dan berharap bahwa suatu hari Jung Im bisa memberikannya.
Dengan lapang dada Yoochun menerima perasaan ini, belum pernah dia di sakiti oleh seorang gadis. Mungkin ini akan menjadi pelajaran baginya untuk tidak menyakiti perasaan perempuan. Dengan berat hati dia mencoba tersenyum dan menunduk melihat ke arah Won Hong.
Dengan lembut Yoochun mengusap rambut Won Hong dan menatapnya dalam-dalam. Tentu saja ini membuat Won Hong kebingungan.
“Pergilah bersama ibumu.” Katanya lirih.
“Nde?”
“Kau lihat pria yang bersama ibumu? Dia adalah ayahmu, maka.. pergi dan hiduplah bahagia bersama dengan orang yang seharusnya ada bersamamu.”
“Lalu bagaimana dengan Ahjusshi?”
“Berjanjilah padaku untuk berkirim surat setiap sebulan sekali. Kau mengerti kan?”
“Ne.”
“Dan satu lagi, katakan pada ibumu.. Ahjusshi ikut bahagia kalau dia juga bahagia. Jangan menyalahkan diri sendiri, kepergian Ahjusshi ini karena keputusanku sendiri jadi berjanjilah untuk hidup baik dan menjadikanmu sebagai seorang pria sejati.” Mendengar kata-kata perpisahan Yoochun membuat Won Hong terharu dan menangis.
“Ya! Seorang pria tidak boleh menangis, seorang pria hanya boleh menangis saat tidak ada seorangpun yang melihat.”
Setelah mengatakan itu, Yoochun pergi dan melambaikan tangannya pada Won Hong yang matanya sudah merah. Sekuat tenaga dia menahan tangis sambil menggigit bibirnya. Setelah menghilang dari pandangan Won Hong, Yoochun bersandar pada pilar dan menangis di sana.. pemandangan yang sangat memilukan.
2 tahun kemudian.
Sebuah peternakan di tengah-tengah padang rumput yang membentang dengan sangat luas dan indah. Terdapat pondok kecil yang di tempati oleh sebuah keluarga kecil. Tak terlihat raut wajah sedih di antara mereka, semuanya tersenyum dan tertawa menjalani kehidupan mereka yang baru yang tentu saja lebih bahagia dari sebelumnya.
To: Yoochun Ahjusshi
Ahjusshi, aku sudah menepati janji. Ibuku hidup dengan baik dan sangat bahagia sekarang. Tidak seperti dulu, hari-hari kami sekarang jauh lebih berwarna. Gomawo.. jeongmal gomawo untuk semua kebaikan yang ahjusshi berikan.. mampirlah kalau pulang ke Korea. Sapi Korean yang terbaik.
Choi Won Hong
THE END
Yes yes, akhirnya tamat juga. gmn bagus apa gak? Satu lagi FF twoshoot dari author geblek ini wkwk :D
Semoga readers menikmati ya, gomawo sudah mau baca ..
Mian tamatnya kaya gini habis bingung mau gimana haha :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar