CASSIOPIEA ALWAYS KEEP THE FAITH

CASSIOPIEA ALWAYS KEEP THE FAITH
THIS OUR GOD, CASSIOPEIA ^^

Sabtu, 23 Juli 2011

FF/ TVXQ HoMin/ Abochi, Saranghaeyo part 2


Tittle: Abochi.. Saranghaeyo
Author: The Blacklist
Chapter: 2 - end
Rated: K
Genre: Family, melankolis
Main cast:
Hong Jung Im
Choi Won Hong
Shim Changmin aka Choi Kang Changmin
Park Yoochun

Summary: Choi Won Hong anak laki-laki berusia 11 tahun yang tidak pernah tahu siapa sebenarnya sosok dari sang ayah. Walaupun sedih tapi dia berusaha keras untuk selalu melakukan yang terbaik demi seseorang yang sangat berharga untuknya, "Asal bersama ibu aku tidak akan menderita." itulah kata-kata motivasi yang selalu membuat ibunya terharu.
Apakah akhirnya dia bisa bertemu dengan ayahnya? Lalu siapa sebenarnya sosok ayah yang di rindukannya?
Ga usah banyak omong langsung lanjut aja! OK


»»  READMORE...

FF/ TVXQ HoMin/ Abochi, Saranghaeyo part 1


Bukannya nyelesein FF The King and I malah bikin FF baru ck author yg satu ini memang tidak bertanggung jawab hha :D

Tittle: Abochi.. Saranghaeyo
Author: The Blacklist
Chapter: 1 - 2
Rated: K
Genre: Family, melankolis
Main cast:
Hong Jung Im
Choi Won Hong
Shim Changmin aka Choi Kang Changmin
Park Yoochun

Summary: Choi Won Hong anak laki-laki berusia 11 tahun yang tidak pernah tahu siapa sebenarnya sosok dari sang ayah. Walaupun sedih tapi dia berusaha keras untuk selalu melakukan yang terbaik demi seseorang yang sangat berharga untuknya, "Asal bersama ibu aku tidak akan menderita." itulah kata-kata motivasi yang selalu membuat ibunya terharu.
Apakah akhirnya dia bisa bertemu dengan ayahnya? Lalu siapa sebenarnya sosok ayah yang di rindukannya?
Langsung mulai aja ya, ga usah banyak cakap hha..

Seorang anak laki-laki kecil sedang duduk termenung di halaman rumahnya sambil berpangku dagu. Dari dalam terdengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil namanya. Anak laki-laki itu menoleh dan langsung menghampirinya.

Wanita itu masih mengenakan celemek bermotif bunga dengan wajah bulat yang lucu dan potongan rambut pendek berombak *itu lho model kaya pemeran cewek di paradise ranch atau yoon eun hye di my fair lady. Gatau knp lg suka model rambut kaya gitu.” Tubuh mungilnya benar-benar membuatnya tampak sangat imut.

“Umma!”
“Won Hong-ah, apa yang kau lakukan. Cepat ke sekolah, dan ini.. ini bekal makan siangmu.” Kata sang ibu sambil menyodorkan kotak berisi bekal itu.
“Apa menu bekal hari ini? Apa ada rollednya?”
“Rolled apanya, kau pikir kau ini apa. Umma beri tambahan sayur, dan ingat kau harus menghabiskannya! Arra?”
“Sayur? Aku ini bukan sapi yang setiap hari makan sayur.” Katanya sambil merengut.
“Sayur sangat baik untukmu, ingat habiskan semua ini. Pulang nanti kotak bekal ini harus bersih tanpa sisa, arra?”
“Ne Umma.” Jawabnya sambil meninggalkan ibunya dengan wajah ditekuk.
“Dan Umma akan sangat marah kalau kau membuang makanan itu dan berbohong.”

Teriaknya saat anak laki-lakinya sudah agak jauh, tapi anak itu sepertinya mendengar kata-kata ibunya karena dia melambaikan tangannya. Ibunya tersenyum lembut sambil mengantar kepergian anaknya. Sesaat menatap langit yang berwarna biru cerah dan bergumam.

“Sudah ku bilang aku bisa hidup walau tanpanmu, oppa.”

Di sekolah Wong Hong, begitulah anak itu di sebut merasa sangat mengantuk, berkali-kali ia menguap dan hampir saja tertidur di mejanya.

“Kalau kau mengantuk kenapa tidak tidur di rumah saja?” tiba-tiba ibu guru mendatangi mejanya dan marah karena kelakuan Won Hong.
“Ah bu guru, cheosohamnida. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Temui bu guru usai pelajaran ini, mengerti?”
“Ne.” Jawabnya lesu.

Dengan berat hati Won Hong terpaksa pergi menemui guru tadi dan mendengarkan doktrin panjang tidak bermutu. Langkah gontai mengantarnya sampai ke depan pintu ruang guru, sesaat dia ragu tapi kemudian memberanikan dirinya dan masuk. Tidak perlu mencari dimana guru itu berada, dia sudah terlalu sering datang ke sini dan hapal benar letaknya. Beberapa guru langsung menatapnya tajam, mengira-ngira kalau anak ini pasti membuat masalah lagi. Won Hong terlalu sibuk sampai tidak harus memperhatikan semua itu.

“Kau sudah datang, duduk.”
“Guru, bisa tolong kau memarahiku besok saja? Aku harus segera pulang, ummaku pasti sudah menunggu di rumah.”
“Aku tahu, tapi guru tidak bisa membiarkanmu seperti ini. Bawa surat ini dan serahkan pada ibumu.”
“Surat? Kenapa harus pakai surat segala?”
“Tidak ada cara lain, aku akan memanggil ibumu.”
“Tapi guru, ibuku sangat sibuk. Aku sangsi dia bisa datang ke sekolah besok.”
“Kalau begitu bawa ayahmu.”
“Aku bahkan belum pernah melihat ayah, bukankah guru juga tahu aku tidak punya keluarga selain ibu.”

Wajah semua orang di ruang guru sekarang berubah, sedikit banyak mereka merasa bersimpati pada bocah kelas 4 sd ini. Walau bagaimanapun juga dia masih anak-anak tapi sudah tidak punya keluarga selain ibunya.

“Baiklah, ibu mengerti. Hanya untuk kali ini, kau mengerti?! Jika kau mengulanginya lagi maka ibu tidak akan menerima alasan apapun.” Ibu guru itu sepertinya sedikit melunak.
“Jadi aku— Baiklah aku akan segera pulang dan belajar dengan rajin.”

Begitu mengatakan itu Won Hong langsung melesat meninggalkan sekolah dan pulang ke rumah. Walau perkataannya tadi hanya untuk membuat guru-guru yang menyebalkan itu mengampuni kesalahannya tapi tetap saja dia merasa sedih kalau mengingatnya.

Di saat teman-teman sebayanya saling membanggakan ayahnya dia hanya bisa menggigit bibir dan menahan tangis. Lalu membayangkan seperti apa ayahnya.

“Abochi, apa kau hidup dengan baik di sana? Aku berjanji tidak akan membuat ibu sedih karena sudah menjadi anak nakal.”

Won Hong semakin dekat dengan rumahnya, dari kejauhan dia melihat sosok wanita yang paling di sayanginya, wanita yang terpenting untuknya, wanita yang dengan gigih membesarkannya.

“Aku tidak apa-apa, asal ibu selalu bersamaku aku tidak akan pernah merasa sedih.” Melihat anaknya baru pulang sekolah, Jung Im langsung memeluknya.
“Ya! Anak nakal, kenapa baru pulang? Kau tidak membuat masalah kan?”
“Mwo? Kenapa umma bilang begitu, tentu saja tidak aku kan bukan anak kecil.”
“Jincha? Kalau begitu masuklah dan kita makan malam.”
“Apa umma mau memberiku sayur lagi?”
“Ani, umma buatkan banyak rolled dan daging.” Mendengar jawaban ibunya, Won Hong sepertinya merasa sangat senang.

Setelah keduanya masuk ke rumah, seorang pria sedang memperhatikan mereka dari dalam mobilnya. Pria itu memakai kacamata hitam dan langsung pergi begitu menerima telepon yang menyuruhnya kembali. Sebelum pergi sekali lagi dia melihat ke arah rumah sederhana itu.. melihat kedua orang itu dengan tatapan lembut.

Di ruang makan.

“Ceritakan pada ibu, hari ini ada kejadian apa?” Jung Im selalu terlihat antusias saat menanyakan hal ini pada anaknya.
“Nde? Tidak ada, sama seperti biasanya. Hari-hari pelajar yang membosankan.” Mendengar jawaban Won Hong, Jung Im langsung memukul kepala anaknya itu *udah jd adatnya org sana kayanya, kita kan sering liat ibunya mukul kepala anaknya kalau ngomong ga sopan atau melakukan kesalahan. Padahal di sini itu kan sangat tdk sopan*.
“Umma, sakit!” rintihnya sambil memegangi kepala.
“Wae? Kau ini masih kecil kenapa bicaramu seperti orang tua? Masa depanmu itu masih panjang bagaimana bisa kau berkata kalau sekolah itu membosankan!”
“Memang benar kan? Sekolah itu membosankan, membuang-buang uang. Bukannya lebih baik aku kerja saja membantu ibu?”
“Apa yang bisa di lakukan anak kecil sepertimu, Won Hong-ah.”
“Aku bukan anak kecil umma!”
“Selesaikan makanmu dan cepat belajar.” Jung Im tahu anaknya ini pasti mulai lagi dan membahas masalah ini.
“Setiap hari umma harus bekerja keras untuk membayar biaya sekolahku. Aku mana tega membiarkan umma menderita!”
“Menderita? Umma tidak pernah bilang begitu.” Jawabnya sambil membereskan peralatan makan mereka.
“Memang tidak tapi aku bisa melihatnya.”
“Won Hong-ah, umma sama sekali tidak menderita. Benar, setiap hari umma bekerja keras. Kau pikir untuk apa umma melakukannya?” berhenti sesaat dan memandang lembut anaknya, lalu mengusap pipinya dengan sayang.
“Tentu saja untukmu, asal umma bisa bersamamu umma tidak akan pernah menderita. Karena yang terpenting sekarang adalah kau, anakku.” Lanjutnya.
“Tapi..”
“Akan membesarkanmu dengan baik, itu janji umma pada kakek dan nenekmu. Karena itulah kau jangan buat umma kecewa.”

Won Hong tidak berani menjawab lagi, dia merasa sudah sangat bersalah karena selama ini selalu membuat masalah dan mengecewakan ibunya. Belum pernah sekalipun ibunya tersenyum bangga padanya.

“Aku kenyang.”

Setelah mengatakan itu, Won Hong pergi ke kamarnya. Jung Im tidak pernah menyalahkan sikap dingin anaknya. Yeah karena dia tahu, dulu ayah anak ini juga bersikap seperti itu. Walaupun terkadang bersikap dingin, tetap saja keduanya bukan orang yang berhati dingin.
Ibu dan anak ini berdiam diri di kamar mereka, Won Hong sibuk membolak-balik buku tapi sebenarnya tidak membaca apapun. Sedang ibunya, duduk di ranjangnya dan mengeluarkan sebuah note kecil. Setelah memandanginya beberapa saat, Jung Im kemudian membukanya. Halaman terakhir note itu adalah.. foto pernikahannya dengan seorang pria yang tampan.

Dari foto itu mereka terlihat sangat bahagia dan serasi, tapi Tuhan memang selalu punya rencananya sendiri. Pengantin pria yang mengenakan tuxedo hitam itu sekarang bukan hanya seorang penyanyi biasa tapi sekarang dia adalah seorang megabintang.

Seorang berbakat yang di miliki Korea. Penyanyi yang tergabung dalam sebuah boyband bernama TVXQ. Boyband terkenal yang memulai debutnya 10 tahun yang lalu. Dengan Jung Yunho sebagai leadernya dan Shim Changmin sebagai anggotanya.

Di Seoul Changmin bergegas memasuki apartemennya, di sana Yunho sudah menunggunya.

“Hyung, kau mabuk lagi?”
“Ah Changmin kau sudah pulang, aku hiks menunggumu dari hiks tadi.”
“Ada apa? Kenapa kau selalu minum akhir-akhir ini?”
“Memangnya kenapa? Apa pria dewasa tidak boleh minum hiks? Kau sendiri, selarut ini baru pulang. Darimana saja?”
“Chogi—“
“Menemui anak dan istrimu lagi? Ku pikir kau akan melupakan mereka seiring berjalannya waktu tapi sepertinya hiks—“
“Selama 10 tahun aku berusaha menghilangkan bayangan mereka, tapi tidak semudah yang ku bayangkan. Perasaan bersalah karena meninggalkan mereka ini benar-benar menyiksaku hyung.” Begitu menoleh ke arah Yunho ternyata dia sudah tertidur pulas karena mabuk. Tapi Changmin tetap melanjutkan ocehannya.
“Kalau mengingat hari itu, aku bisa jadi gila. Tidak pantas di sebut sebagai ayah dan suami yang baik. Jujur saja aku merasa malu dengan semua itu. Bukan merasa malu karena masa laluku yang berantakan, tapi merasa malu karena sudah menjadi seorang yang gagal.”

Sedetik kemudian Changmin tersenyum kecut dan meneguk soju langsung dari botolnya. Tak lama kemudian dia juga ikut tertidur karena mabuk berat.

Langit begitu cerah, sampai-sampai tak terlihat satupun awan yang berarak. Jung Im tersenyum cerah melihatnya dan melanjutkan langkahnya.

“Hari ini juga, aku harus bekerja dengan baik dan membawa banyak uang. Won Hong-ah kau tenang saja, umma akan masak enak hari ini.” Katanya bersemangat.

Jung Im memutuskan untuk melamar kerja di sebuah perusahaan management artis. Dia ingin melamar untuk apa saja jenis pekerjaan yang bisa ia kerjakan.

“Mwo? Pekerjaan apa saja?” kepala bagian pemasaran tentu saja sedikit terkejut dengan pertanyaan Jung Im.
“Ne, aku bisa melakukan pekerjaan apa saja.”
“Benarkah? Jadi kau datang kemari dan bertanya ada lowongan pekerjaan apa yang kosong, begitu?”
“Ne.”
“Kalau begitu ikut denganku.”

Jung Im di ajak berkeliling perusahaan, perusahaan ini terlihat sangat besar. Ada banyak sekali ruangan di sini, dan Jung Im terus-menerus berdecak kagum. Dia sering melihat gedung-gedung tinggi seperti ini tapi tidak pernah memasukinya. Mungkin karena dia tinggal di daerah yang sedikit terpencil.

Kepala bagian pemasaran tiba-tiba saja berhenti di sebuah ruangan bertuliskan “Jenderal Manager”. Jung Im tentu saja merasa heran tapi tidak berani bertanya dan hanya mengikutinya saja.

“Masuklah, beliau sudah menunggu.”
“A.. apa maksud tuan?”
“Kau bilang bersedia bekerja apa saja, nah sekarang karena perusahaan kami sedang mencari seorang sekretaris jadi kau di terima bekerja di sini sebagai sekretaris.”
“Mwo? Ta.. tapi aku—“
“Ayo cepat masuk, dia sudah menunggu. Beri salam dan kau bisa langsung bekerja padanya hari ini.”

Begitu mengatakan itu, kepala pemasaran langsung pergi begitu saja meninggalkan Jung Im yang tidak tahu harus berbuat apa, setelah berdiam diri selama beberapa menit Jung Im akhirnya memberanikan diri untuk memasuki ruangan itu.

“Siapa?” terdengar suara baritone dari seorang pria yang sedang duduk tenang di kursinya yang empuk itu.
“Ah cheosohamnida, aku.. aku sekretaris baru yang akan bekerja bersama anda.” Jung Im sedikit kikuk karena baru pertama kali ia bekerja sebagai sekretaris.
“Ah perkenalkan, Hong Jung Im imnida. Mohon bantuannya.” Membungkuk 90 derajat. Manager itu hanya tersenyum geli melihat Jung Im yang sepertinya sangat kikuk.
“Haha baiklah, namaku Park Yoochun, Manager perusahaan. Kau bisa langsung bekerja, ruanganmu ada di sana.” Katanya sambil menunjuk ke arah ruangan kecil yang di batasi oleh sekat yang terbuat dari kaca.
“N.. ne, Gamsahamnida.”

Begitu mendongakkan badan, Jung Im baru menyadarinya. Bosnya ini benar-benar sangat tampan, tanpa sadar dia mulai memperhatikan dengan serius wajahnya. Mulai dari alis tipis yang sedikit tertutup rambutnya yang bermode metropolitan, mata sipitnya yang tetap terlihat indah lalu hidung mancung sedikit bengkok menambah pesonanya dan tanpa sengaja Jung Im menelan ludahnya begitu matanya memperhatikan bibir bosnya itu. Bibir ranum yang sedikit tebal, bahkan terkesan sensual membuat gadis manapun pasti langsung meleleh jika mendapat ciumannya.

Lalu Jung Im tersadar dari lamunannya dan langsung salah tingkah, bosnya tentu saja melihat tingkah Jung Im dengan aneh.

“Apa yang ku pikirkan, kenapa berimajinasi seperti itu.” pikirnya.

Jung Im langsung ngibrit ke ruangannya, melihat itu Yoochun terkekeh sendiri. Dan sadar betul kalau sedari tadi sekretaris barunya itu sudah terpesona padanya. Bukan hal baru untuknya karena dia sudah sering menerima tatapan seperti itu dari banyak gadis yang di temuinya.

“Aiissh kenapa aku bodoh sekali, hari pertama sudah melakukan kesalahan memalukan seperti ini!” kesalnya sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Seharian bekerja di lingkungan yang baru membuat Jung Im sangat tidak nyaman. Tugasnya hanya mengingatkan bosnya kalau ada jadwal kegiatan atau menerima telepon dan menyambungkannya.

Karena terlalu merasa bosan Jung Im akhirnya tertidur juga di meja kerjanya. Beberapa menit kemudian telepon berbunyi.

“Yoboseyeo? Dengan sekretaris Hong.”
“Sampai kapan kau mau tidur, jam istirahat hampir selesai.”

Jung Im terkejut mendengar suara dari telepon lalu melihat ke ruang kerja bosnya. Ternyata bosnya lah yang meneleponnya.

“Gawat.”
“Ku beri tambahan waktu 10 menit, cepat kembali sebelum itu.”

Jung Im mengerti dan membungkuk lalu secepat kilat meninggalkan ruang kerjanya.

“Lucu sekali gadis itu.”

Hari ini pun berakhir dengan sangat melelahkan, jam sudah menunjukan pukul 5 pm. Itu berarti jam kerjanya sudah habis. Setelah membereskan beberapa peralatan kerjanya Jung Im berniat segera pulang karena takut membuat Won Hong menunggu.

“Bos? Boleh aku pulang sekarang?”
“Tentu, aku masih harus selesaikan beberapa proposal. Besok aku akan memintamu menyerahkannya ke bagian redaksi.”
“Baik. Selamat sore.”
“Sampai jumpa—“
“Nde?” ucapan Yoochun membuat Jung Im tertegun.
“Itu yang harus kau katakan sebelum pulang, mengerti kan.” Jawabnya tanpa melihat ke arah Jung Im terlebih dahulu dan terus melihat proposalnya.
“Aa.. iya. Sampai jumpa.”

Setibanya di rumah Won Hong sudah menunggu umma kesayangannya ini.

“Umma!”
“Won Hong-ah kau sudah lama menunggu?” tapi Won Hong tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. Dia malah sibuk memeluk ibunya ini.
“Aku lapar.”
“Karena umma sudah dapat pekerjaan bagus, bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?”
“Jincha? Kalau begitu aku mau makan sushi.” Jawabnya bersemangat.
“Makanan jepang? Hmm baiklah, kkaja!”

Malam hari terasa begitu dingin, sebelum keluar rumah Jung Im membantu anaknya mengenakan syal. Lalu menggandengnya dan berjalan bersama sambil mengobrol. Sangat akrab dua ikatan ini. Tanpa tahu bahwa seseorang yang masih sangat menyayangi mereka sedang mengawasi.

Hari-hari berlalu dengan baik, semenjak bekerja di perusahaan itu kehidupan ekonominya menjadi lebih baik. Walau dia harus pulang sedikit larut. Bosnya juga memperlakukannya dengan sangat baik, tentu saja ini membuatnya betah bekerja di sana.

“Sudah malam kau pulang naik apa?”
“Tidak apa-apa aku sudah biasa naik bus, bos.”
“Tapi tetap saja tidak baik kalau seorang gadis sendirian malam-malam.”
“Ini belum terlalu malam, lagipula rumahku tidak terlalu jauh dari sini.”
“Kalau begitu ku antar pulang saja ya?”
“Tidak perlu bos, aku—“

Belum sempat Jung Im menyelesaikan kalimatnya, tangannya sudah di gandeng Yoochun. Tentu saja ini membuatnya grogi setengah mati. Sejak bercerai dari Changmin 10 tahun yang lalu Jung Im memang tidak pernah mempunyai hubungan special dengan seorang pria. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun dia mulai merasakan sesuatu yang aneh tiap kali berduaan dengan bosnya atau saat bosnya memperlakukannya dengan baik. Perasaan yang tidak di sadarinya.. berdebar-debar.

Mobil Porsche hitam milik Yoochun pun melaju bebas di jalanan. Jung Im sama sekali tidak berani melihat ke arah bosnya dan hanya berdiam diri membisu sambil terus menatap ke arah depan.

“Kenapa diam saja?”
“Mwo? ng tidak bukannya begitu aku cuma—“
“Bingung mau bicara apa, benar kan?” jawab Yoochun sambil tersenyum sekilas ke arah Jung Im. Senyum yang benar-benar manis dan lagi-lagi membuat jantung Jung Im kembali berdebar kencang.
“Kau tinggal sendiri atau—“
“Aku tinggal dengan putraku.”
“Putra?” Yoochun sedikit terkejut dengan jawaban Jung Im. Tapi berusaha tetap bersikap wajar di depannya.
“Putra tunggalku.”
“Jadi kau sudah menikah?”
“Ya dan bercerai 10 tahun yang lalu?”
“Se.. sepuluh tahun?!”

Kali ini Yoochun sedikit meninggikan suaranya karena sangat terkejut, melihat daftar riwayat hidupnya kemarin dia ingat umur Jung Im baru lah 27 tahun dan jika dia sudah bercerai 10 tahun yang lalu itu berarti dia menikah setelah lulus SMA.

“Aku bercerai setelah anakku lahir, sekarang akulah yang membesarkannya sendiri. Ah kita sudah sampai.”

Yoochun langsung menginjak rem dan membuat keduanya terhempas ke depan hampir saja mereka terhentak dashboard mobil kalau saja tidak memakai sabuk pengaman.

“Kau tidak apa-apa?”
“Gwaenchana, ng boleh aku melihat anakmu sebentar?”
“N.. ne.”

Melihat sosok ibunya dari jendela Won Hong langsung berlari dan membukakan pintu. Tapi pandangannya teralih pada sosok pria yang datang bersama ibunya, pria yang tinggi dengan setelan jas yang sangat cocok di tubuh tegapnya.

“Jadi kau yang bernama Choi Won Hong?”
“N.. ne.” Won Hong tentu saja bingung, jarang-jarang ibunya membawa tamu apalagi seorang pria.
“Umma, siapa dia?”
“Beri salam Won Hong-ah.”
“Ahh annyeong, Won Hong imnida.”
“Senang berkenalan denganmu, kau ini manis sekali ya.”
“Tapi ahjussi ini siapa? Kau bukan namja chingunya umma ku kan?” Jung Im dan Yoochun tentu saja langsung terperanjat.
“Won Hong! Kenapa kau jadi tidak sopan, minta maaf sekarang. Dia bosnya umma.”
“Bos? Apa dia pria baik hati dan tampan yang sering umma mmm—“

Dengan cekatan Jung Im langsung membekap mulut Won Hong agar tidak mengatakan hal aneh lagi. Jung Im benar-benar merasa tidak enak dan sangat malu, bisa di pastikan wajahnya pasti sudah seperti kepiting rebus.

“Mianata, dia memang—“
“Gwaenchana, baiklah kalau begitu aku pulang dulu.”
“Tidak mau minum teh dulu?”

Mereka mengbrol sambil berjalan, Jung Im mengantarkan Yoochun sampai ke depan pintu gerbangnya.

“Tidak terima kasih, lain kali saja ya.”
“Oh baiklah, terima kasih untuk tumpangannya.”
“Ne, cheonmaneyo.” Jawabnya dari dalam mobil dan menurunkan sedikit kaca mobilnya.
“Oh ya terima kasih juga untuk pujianmu, aku sangat menghargainya.” Setelah mengatakan itu Yoochun langsung tancap gas meninggalkan Jung Im yang benar-benar merasa malu.
“Aissshh anak itu harus di hukum malam ini.”

Hanya ada satu orang yang melihat dengan tidak suka ke arah, siapa lagi kalau bukan pria yang hampir setiap hari mengawasi rumah mungil Jung Im dan Won Hong.

“Pria itu, siapa?” gumamnya.

Sedangkan Yoochun di mobilnya senyum-senyum sendiri mengingat pujian dari sekretaris barunya itu.

“Gadis itu memang istimewa.”

Tanggal 4 Desember, hari yang di tunggu-tunggu Won Hong. Apalagi kalau bukan hari ulang tahunnya, hampir setiap tahunnya Jung Im tidak pernah melupakan hari istimewa ini. Pagi-pagi sekali dia berusaha membuat kue kecil dan menyalakan lilin. Lalu membawanya ke hadapan Won Hong yang masih asik bergelung di selimutnya.

“Won Hong-ah bangun, sudah jam berapa ini?”

Tapi Won Hong tetap mengabaikan perintah ibunya bahkan menarik selimutnya sampai ke bawah hidung, merapatkannya dan melanjutkan tidurnya.

“Ya! Won Hong-ah bangun!” Takut dengan amukan ibunya, Won Hong akhirnya membuka matanya. Dan terkejut melihat kue yang di bawa ibunya juga beberapa lilin yang berdiri tegak di atasnya.
“Umma?”
“Saengil Chukka Hamnida, Won Hong-ah.”

Won Hong merasa terharu dengan perhatian ibunya. Memang, setiap tahun acara ulang tahunnya sudah menjadi agenda rutin. Entah sekedar memotong kue atau makan di luar bahkan hanya meniup lilin pun pernah di lakukannya untuk merayakan hari ulang tahun. Dulu ketika kondisi perekonomian keluarganya sedang buruk.

“Gomawo umma.”
“Hari ini, kita akan bersenang-senang. Umma sudah minta cuti dari perusahaan dan di izinkan. Karena itu, sepulang sekolah kita akan pergi ke namsan tower atau taman bermain manapun yang kau mau.”
“Umma—“
“Belum pernah umma merayakan hari ulang tahunmu dengan meriah, paling-paling hanya makan di restaurant sederhana. Mianhae, selama ini umma tidak pernah merayakan hari ulang tahunmu dengan baik. Karena itu sebagai ucapan permintaan maaf, kali ini kita akan besenang-senang seharian, nde?”
“Umm!”

Jung Im tidak sabar menunggu jam pulang sekolah Won Hong, dia sudah berdandan sangat cantik. Orang bahkan akan mengira dia sebagai seorang mahasiswi. Seorang tamu datang dan Jung Im di kejutkan oleh sesosok pria dengan setelan jas hitamnya yang walaupun sederhana tetap terlihat modis.

“Manager?!”

Yoochun tidak menjawab dan hanya melambaikan tangan, lalu menyerahkan sekotak bingkisan.

“A.. apa ini?”
“Kado untuk anakmu.”
“Hajiman, ini tidak perlu.”
“Ini kan untuk Won Hong bukan untukmu jadi dia yang berhak memutuskan, akan menerima hadiah ini atau tidak.”
“Bos—“
“Sudahlah, kalau tidak cepat kita akan terlambat.”
“Eh.. terlambat apa?”
“Menjemput Won Hong.”

Tanpa basa-basi lagi Yoochun langsung membukakakan pintu mobilnya untuk Jung Im dan menyuruhnya membawakan kadonya. Jung Im tak habis pikir tapi tidak berani bertanya macam-macam.

Di sekolahnya Won Hong sudah menunggu kedatangan ibunya dengan gelisah, dia benar-benar merasa sangat bahagia. Sedang Changmin hanya bisa melihat anaknya tumbuh besar dan melewatkan 10 kali ulang tahunnya. Tidak.. dia tidak pernah melewatkan hari ulang tahun anaknya, hanya saja dia merayakannya sendiri.

Menggenggam erat bungkusan di kursi penumpangnya, ingin rasanya dia berikan secara langsung kado ulang tahunnya. Setiap tahun ia selalu menyiapkan sebuah kado untuk anaknya berharap bisa memberikannya tapi kado itu akhirnya hanya menjadi tumpukan yang semakin menggunung di apartemennya.

“Saengil Chukka Hamnida, Won Hong-ah.” Katanya lirih.

Saat hendak meninggalkan sekolah, perhatian Changmin tertuju pada seorang gadis yang selama ini di rindukannya. Bukan karena sosok gadis itu tapi karena sosok pria yang berjalan di belakangnya. Changmin terus saja memperhatikan mereka bertiga hingga ketiganya memasuki mobil pria itu. Changmin yang tadinya memutuskan untuk meninggalkan Won Hong mengurungkan niatnya dan mengikuti kemana mereka pergi.

Benar-benar hari yang menyenangkan, mereka melalui hari ini seperti keluarga kecil yang sedang merayakan ulang tahun anaknya. Bahkan seorang laki-laki yang menawarkan jasa foto mengira mereka adalah keluarga.

“Ng bukan kami bukan—“
“Baiklah, cuma foto saja kan.”

Jung Im dan Won Hong tidak menyangka Yoochun mau berfoto bersama, Jung Im merasa canggung dan hendak menolak. Tapi Yoochun mengatakan kalau Won Hong pasti ingin punya foto keluarga, anggap saja hari ini mereka adalah sebuah keluarga. Akhirnya mau tidak mau Jung Im bersedia menerima permintaan Yoochun.

Mereka berfoto dalam banyak pose, ada pose saat Yoochun menggendong Won Hong dan bersama-sama mencium Won Hong. Atau saat Jung Im berada di tengah, fotografer itu meminta Yoochun dan Won Hong untu mencium pipi Jung Im dalam waktu yang bersamaan. Yoochun dan Jung Im benar-benar sangat grogi tapi akhirnya setuju juga.

“Waah semuanya bagus.”
“Aku akan menyimpannya dan memamerkannya kalau aku punya ayah yang sangat tampan.”
“Won Hong! Jangan bicara seperti itu.”
“Tidak apa-apa, terima kasih sudah menganggapku sebagai seorang ayah.”
“Hehehe kalau begitu, aku mau belikan es krim untuk Ahjusshi.”

Won Hong berlari meninggalkan ibunya dan situasi seperti ini benar-benar sangat tidak nyaman. Di sisi lain mereka berdua merasa sangat canggung tapi akhirnya Jung Im buka suara juga.

“Gomawo, jeongmal gomawo.”

Yoochun tidak menjawab apa-apa dan hanya tersenyum, sedetik kemudian Yoochun memberanikan diri untuk mengenggam tangan Jung Im. Merasa sudah tidak tahan lagi hanya mengawasi, Changmin akhirnya keluar dari mobil dan langsung menghempaskan tangan Jung Im yang tadi di pegang Yoochun. Kedatangan Changmin membuat Yoochun dan Jung Im terkejut.

“Oppa.”

Bersambung

Atas permintaan seorang readers yang sangat berarti, author mengedit ulang FF ini yang tadinya hanya oneshoot menjadi twoshoot, gpp sih biar readers juga lebih gampang bacanya.
Terima kasih untuk readers yang sudah memberi saran atas perhatiannya author sangat terharu *lebe*
Untuk selanjutnya terima kasih sudah membaca part 1 silakan membaca part 2 nya, kali ini gak usah nunggu udah ada kok hahaha :D
»»  READMORE...

Cerpen: THE EYE


THE EYE

Summary: Sydney Wills seorang gadis buta yang selalu bisa melihat dengan caranya sendiri, bahkan melihat dengan cara terbaik yang ada di dunia ini. Menunggu setiap hari kapan warna hitam dalam hidupnya segera tergantikan.

Bagi siapapun, melihat berarti mengetahui. Melihat berarti mengetahui kebenaran. Tapi tidak denganku. Tidak semua kebenaran dapat di ungkapkan dengan melihat, aku melihat dengan caraku sendiri. Yeah, aku melihat dengan hidungku, tanganku, kakiku dan.. hatiku.
Usiaku 24 tahun, dan aku tidak bisa melihat sejak umur 12 tahun. Mataku buta karena petasan yang dinyalakan kakakku pada hari Natal 12 tahun yang lalu. Tapi aku tetap bisa melihat, aku tahu saat hujan akan datang. Yeah aroma uap air bisa aku rasakan. Melihat tanpa mata, mungkin itulah kelebihanku. Sedikit keadilan yang Tuhan berikan pada mahluknya yang tak berdaya.
Dan di sinilah aku, gadis biasa yang sedang berjalan dengan satu tongkat. Benda yang membantuku untuk melihat. Sedang menunggu lampu lalu lintas berganti hijau. Dengan indera pendengarku yang tajam, aku bisa tahu kapan lampu lalu lintas itu akan berganti warna. Bunyi denting itu selalu bisa aku dengar biarpun hiruk pikuk jalanan berusaha menyembunyikannya.
“AWAS!”
Aku berteriak saat seseorang hampir saja tertabrak bus yang melintas.
“Ah iya, terima kasih. Kau sudah menolongku.”
Aku mendengar suara bariton laki laki yang sudah ku tolong itu.
“Maaf, aku memang tidak melihat ada bus itu.” Dia menyambungnya lagi.
“Yeah, aku juga tidak melihat bus itu.”
Dan pergi meninggalkan pria yang tadi ku selamatkan. Menyisakan keterkejutan yang luar biasa padanya. Setidaknya aku ingin meninggalkan kesan bahwa orang buta sepertiku juga bisa melihat. Bahkan jauh lebih baik dari mereka yang bisa melihat.
Kemana langkahku? Aku selalu tahu, saat ini satu satunya tempat yang ingin kutuju adalah sebuah gedung klasik bergaya eropa di sudut kota tua. Bangunan apik yang menyimpan banyak sejarah. Yeah, itu adalah bangunan tempat di gelarnya beberapa konser musik untuk memperingati hari-hari istimewa kota.
Aku kesana bukan sebagai penonton. Tahun ini aku bisa unjuk bakat, bakat yang ku asah selama belasan tahun. Karena kecintaanku pada musik. Bagiku musik bukan hanya tentang indah, musik adalah bagian dari hidupku. Sesuatu yang sangat berarti dan mengalir dalam setiap pembuluh darahku ini. Desirnya pun bisa ku rasakan setiap kali mendengar alunan simphoni.
Yeah inilah aku, Sydney Wills. Lulusan Universitas Seni di Columbia. Anak kedua dari dua bersaudara keluarga Wills. Berdiri dengan anggun di atas panggung.. ku rasa. Memegang erat biola kesayanganku ini. Bukan sekedar biola, dia adalah teman yang akan membantuku menjadi seorang professional.
Aku tidak tahu, berapa banyak penonton yang datang untuk melihatku. Aku juga tidak tahu anggapan apa yang akan mereka katakan setelah pagelaran ini. Aku tidak tahu apa apa, tapi itulah yang membuatku merasa lebih baik. Terkadang mengetahui segala hal itu tidak akan membuatmu merasa lebih baik. Semua orang bisa melakukan sesuatu dengan baik, tapi yang tidak sama adalah perasaan mereka yang ingin melakukan sesuatu dengan baik justru hal itulah yang menjadi hal terbaik.
Lagu ini, sonata bethoven “Secret World” yang ku bawakan. Aku melakukannya dengan baik dan semoga akan menjadi yang terbaik. Berada di atas panggung ini sangatlah menyenangkan. Kebahagian yang selalu aku dapatkan, kebahagian yang akan membawaku menjadi seperti orang lain. Orang-orang dengan kesempurnaan fisik.
Yeah, kebahagian yang aku rasakan saat ini juga adalah yang terbaik. Yang ku tahu, kebahagian di dunia ini ada dua hal. Kebahagian yang pertama adalah kebahagian yang kau sadari ketika telah berlalu. Kedua adalah kebahagian yang kau rasakan saat itu juga. kebahagiaan yang terjadi pada saat dilakukan adalah sangat langka.
Mereka berkata kau bisa melihat sinar kemilau hanya dengan mengingatnya. Ku rasa aku akan terus mengingat saat ini. Hari ini, kebahagian ini akan aku ingat sepanjang sisa hidup ini. Saat-saat di mana aku.. bersinar.
Tepuk tangan yang sangat meriah itu benar benar membutku lega. Ku pikir, aku pasti sudah melakukan sesuatu yang terbaik. Seusai pagelaran ini, aku berpamitan dengan para seniorku yang sangat puas dengan pertunjukan kali ini.
“Kau bermain dengan sangat mengagumkan, Sydney.”
Suara itu, yeah aku mengenalinya dengan sangat baik. Stephani Delweis. Dia wanita yang hidup dalam dunianya yang sempurna. Aku tahu, bulan lalu seniorku ini baru saja menikah dengan pria baik tentunya. Aku menyukainya, dia wanita baik dan tegar. Senior yang lebih tua 2 tahun dariku ini tidak pernah memandangku sebelah mata. Dia sudah seperti kakakku.
“Aku melakukan hal terbaik yang bisa ku lakukan.”
Jawabku sambil tersenyum bahagia, tentu saja kacamata hitam selalu menutupi iris mataku yang berwarna biru pucat. Dan aku bisa merasakan, di sana dia juga tersenyum mendengar kata kataku.
“Kau tahu Sydney, mulai libur musim panas ini aku akan pergi berbulan madu dengan suamiku. Kau tak keberatan aku pergi selama beberapa hari?”
Terdengar jelas dari setiap tarikan nafas dan penekanan suku katanya, dia mengkhawatirkanku.
“Apa aku harus pulang ke Florida untuk menenangkanmu, sist?”
Dia terkekeh geli, dan menggenggam tanganku lembut.
“Yeah, kau harus melakukannya jika tak ingin membuatku gila karena memikirkanmu.”
Kami tertawa bersama, kurasa ini lelucon terbaik. Ikatan di antara kami yang sudah seperti saudara. Selama beberapa tahun ini, aku tinggal satu apartemen dengannya. Dan wanita ini selalu membantu kesulitanku. Dia adalah teman dan guru terbaik.
Esok harinya, aku terbangun di dalam gelungan selimut yang hangat dan lembut ini. Alarm berbunyi tujuh kali dan itu artinya, jam sudah menunjukan pukul 7 am. Hendak beranjak ke arah lemari kayu ek. Dan ku aktifkan mesin penerima pesannya.
“Sydney cepat bangun, kau akan terlambat kalau tak bangun sekarang.”
Aku hanya tersenyum simpul mendengar suara Stephani di mesin penerima pesan itu, tak kusangka dia benar benar menelepon saat hari harinya untuk bulan madu. Dan satu lagi pesan masuk.
“Hei, sudah 5 menit sejak telepon pertamaku. Kau belum juga bangun. Kau akan terlambat di hari pentingmu ini, kau dengar?”
Terdengar penekanan pada setiap katanya, Stephani pasti sudah tidak sabar. Ku biarkan saja pesan itu dan melanjutkankan aktifitasku menuangkan kopi hitam di cangkir. Satu pesan lagi masuk, ku pikir itu dari Stephani lagi tapi ternyata bukan.
“Nona Wills, pemeriksaan akan kita lakukan pada jam 10 am. Datanglah ke rumah sakit seperti biasa dan bawakan hasil check-up bulan lalu. Kau akan dapatkan hadiah terbaik di musim panas tahun ini.
Itu adalah suara bariton dari dokterku, Williem Hansel. Ahli mata yang sudah menanganiku sejak 5 tahun yang lalu. Tapi aku tak peduli, toh masih ada waktu tiga jam lagi sampai perjanjian itu. Aku tak mau kegemaranku menghirup aroma kopi di pagi hari ini terinterupsi. Tapi perkataan dokter itu sedikit membuat pagiku kali ini terusik.
Yeah aku memutuskan untuk segera ke rumah sakit. Kabar baik apa yang di maksudnya? Entahlah. Beberapa hal ternyata cukup membuatku menunda keberangkatan ke rumah sakit di daerah elit. Beverly Hills.
Hari ini benar benar cerah, aku bisa merasakannya. Sinar matahari yang hangat itu seakan membungkus kulitku dengan baik, terasa sangat nyaman. Memang, aku sudah lama hidup dalam kegelapan. Sahabat terbaikku adalah hitam, tapi bukan berarti aku sama sekali tak bisa melihat cahaya. Bagi orang sepertiku, cahaya sekecil apapun pasti bisa terlihat.
“Permisi.”
Aroma ruangan yang sudah sangat ku hafal ini mulai menyeruak memenuhi hidungku, aroma lembut mint khas laki laki dewasa. Yeah aku tak membenci aroma ini, aku bahkan sangat menyukainya.
“Masuklah, silakan duduk nona.”
Bunyi berdecit itu pasti kursi yang di dudukinya. Ku pikir dia sangat menyukai kursi itu karena tidak menggantinya walaupun sudah cukup berkarat.. mungkin.
“Aku punya kabar baik untukmu. Setelah menunggu selama beberapa tahun, ada orang baik hati yang bersedia mendonorkan matanya.”
Seakan ada ribuan volt yang di aliri ke dalam tubuhku, aku benar benar terkejut tapi juga merasa bahagia. Akhirnya setelah menunggu dalam kegelapan selama 12 tahun aku akan segera sembuh dan kembali melihat dunia yang sudah sangat lama kutinggalkan.
“Jadi a.. aku—“
“Kau akan bisa melihat dalam waktu dekat ini.”
Aku tidak tahu harus apa, aku hanya merasa benar benar bahagia.. itu saja. Ku harap ada Stephani di sampingku dan memberiku selamat serta mentraktirku makan malam, tapi ya sudahlah, aku tak ingin merusak acara bulan madunya. Toh aku bisa memberitahunya nanti kalau dia sudah kembali.
Selama beberapa hari aku harus menginap di rumah sakit agar keadaanku stabil. Orangtuaku sudah ku telepon kemarin dan mereka bilang akan segera ke Colombia. Sepertinya Tuhan sudah mendengar doaku setiap malam, sepertinya Tuhan sudah mengerti seberapa besar penderitaanku.
Hari pertama. Hari kedua. Hari ketiga. Dan hari ini, adalah hari dimana operasi itu akan dilakukan. Belum pernah aku merasa segugup ini. Tapi aku tak membenci perasaan ini, jantungku yang berdebar, perasaan takut ini. Aku belum pernah merasakannya tapi aku menyukainya.
Aku tak pernah menyalahkan siapapun tentang kebutaanku ini. Tapi satu yang ku takutkan. Aku takut, suatu hari nanti aku tidak lagi bisa mengingat seperti apa wajah orang tuaku, kakakku, dan keluargaku. Aku takut aku akan melupakan seperti apa matahari, bulan dan lainnya. Aku harus bersabar untuk melihat, aku sudah menunggu 12 tahun dan aku pasti bisa menunggu 3 hari. Yeah itu waktu yang singkat bagiku.
“Sekarang aku akan melepas perban di matamu.”
Perlahan lahan sedikit demi sedikit perban di mataku mulai lepas, aku mulai bisa melihat cahaya yang menembus sampai ke dalam mataku. Dokter muda itu memberiku instruksi untuk membuka mata sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai mengerjap ngerjapkannya dan entahlah aku merasa pipiku memanas. Aku tak pernah menyangka wajah dokter Hansel setampan ini.
“Kau bisa melihat dengan jelas?”
Tak ada satupun kata kata yang keluar dari bibirku, yang ada hanya anggukan kepala. Dan sepertinya dokter Hansel tahu apa maksudku.
“Baiklah, sepertinya kau mendapatkan mata yang indah. Warna biru sebiru langit, mungkin itulah mata yang cocok untukmu. Blue sapphire. Tapi kau harus tetap datang check-up. Aku yang akan merawatmu sampai benar benar sembuh.”
Yang akan kukatakan sekarang adalah.. kehidupan orang tidak akan berakhir ketika mereka mati. Itu berakhir ketika mereka kehilangan keyakinannya. Seseorang bahkan berjuang hidup dan rela mati untuk sebuah ikatan. Yeah, ikatan berharga yang di sebut.. cinta.
Kenapa manusia mau mempertaruhkan nyawa untuk melindungi orang lain? Manusia mati sendirian lalu menghilang. Juga masa lalu serta kehidupan saat ini lalu bersama dengan masa depan. Banyak orang meninggal dalam peperangan atau saat menjalankan tugas, dan datangnya waktu kematian itupun sangat tiba-tiba sampai terasa mengejutkan. Diantara orang matipun ada cita-cita yang mereka kejar tapi bagi siapapun juga ada sesuatu yang berharga, yang nilainya sama dengan itu. Orang tua, saudara, teman serta kekasih. Orang-orang yang benar-benar berharga bagi diri sendiri, ikatan dengan orang-orang yang berharga yang saling percaya dan menolong yang sudah ada sejak lahir. Kemudian benang ikatan itu mengikuti jalannya waktu menjadi tebal dan kuat, tak bisa di jelaskan dengan teori. Orang yang memiliki benang tersebut mengerti hal itu karena begitu berharga.

THE END
»»  READMORE...